Darimana Asalnya Alkitab?
SEJARAH TERBENTUKNYA KITAB-KITAB PERJANJIAN LAMA
Alkitab Gereja Katolik terdiri dari 73 kitab, yaitu Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab sedangkan Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab. Bagaimanakah sejarahnya sehingga Alkitab terdiri dari 73 kitab, tidak lebih dan tidak kurang? Pertama, kita akan mengupas kitab-kitab Perjanjian Lama yang dibagi dalam tiga bagian utama: Hukum-hukum Taurat, Kitab nabi-nabi dan Naskah-naskah. Lima buku pertama: Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat dan Kitab Bilangan dan Kitab Ulangan adalah intisari dan cikal-bakal seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama. Pada suatu ketika dalam sejarah, ini adalah Kitab Suci yang dikenal oleh orang-orang Yahudi dan disebut Kitab Taurat atau Pentateuch.
Selama lebih dari 2000 tahun, nabi Musa dianggap sebagai penulis dari Kitab Taurat, oleh karena itu kitab ini sering disebut Kitab Nabi Musa dan sepanjang Alkitab ada referensi kepada "Hukum Nabi Musa". Tidak ada seorangpun yang dapat memastikan siapa yang menulis Kitab Taurat, tetapi tidak disangkal bahwa nabi Musa memegang peran yang unik dan penting dalam berbagai peristiwa-peristiwa yang terekam dalam kitab-kitab ini. Sebagai orang Katolik, kita percaya bahwa Alkitab adalah hasil inspirasi Ilahi dan karenanya identitas para manusia pengarangnya tidaklah penting.
Nabi Musa menaruh satu set kitab di dalam Tabut Perjanjian (The Ark of The Covenant) kira-kira 3300 tahun yang lalu. Lama kemudian Kitab Para Nabi dan Naskah-naskah ditambahkan kepada Kitab Taurat dan membentuk Kitab-kitab Perjanjian Lama. Kapan tepatnya isi dari Kitab-kitab Perjanjian Lama ditentukan dan dianggap sudah lengkap, tidaklah diketahui secara pasti. Yang jelas, setidaknya sejak lebih dari 100 tahun sebelum kelahiran Kristus, Kitab-kitab Perjanjian Lama sudah ada seperti umat Katolik mengenalnya sekarang.
Kitab-kitab Perjanjian Lama pada awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani (Hebrew) bagi Israel, umat pilihan Allah. Tetapi setelah orang-orang Yahudi terusir dari tanah Palestina dan akhirnya menetap di berbagai tempat, mereka kehilangan bahasa aslinya dan mulai berbicara dalam bahasa Yunani (Greek) yang pada waktu itu merupakan bahasa internasional. Oleh karena itu menjadi penting kiranya untuk menyediakan bagi mereka, terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Pada waktu itu di Alexandria berdiam sejumlah besar orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Selama pemerintahan Ptolemius II Philadelphus (285 - 246 SM) proyek penterjemahan dari seluruh Kitab Suci orang Yahudi ke dalam bahasa Yunani dimulai oleh 70 atau 72 ahli-kitab Yahudi - menurut tradisi - 6 orang dipilih mewakili setiap dari 12 suku bangsa Israel. Terjemahan ini diselesaikan sekitar tahun 250 - 125 SM dan disebut Septuagint, yaitu dari kata Latin yang berarti 70 (LXX), sesuai dengan jumlah penterjemah. Kitab ini sangat populer dan diakui sebagai Kitab Suci resmi (kanon Alexandria) kaum Yahudi diaspora (=terbuang), yang tinggal di wilayah Asia Kecil dan Mesir. Pada waktu itu Ibrani adalah bahasa yang nyaris mati dan orang-orang Yahudi di Palestina umumnya berbicara dalam bahasa Aram. Jadi tidak mengherankan kalau Septuagint adalah terjemahan yang digunakan oleh Yesus, para Rasul dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru. Bahkan, 300 kutipan dari Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru adalah berasal dari Septuagint. Harap diingat juga bahwa seluruh Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani.
Setelah Yesus disalibkan dan wafat, para pengikut-Nya tidak menjadi punah tetapi malahan menjadi semakin kuat. Pada sekitar tahun 100 Masehi, para rabbi (imam Yahudi) berkumpul di Jamnia, Palestina, mungkin sebagai reaksi terhadap umat Kristen. Dalam konsili Jamnia ini mereka menetapkan empat kriteria untuk menentukan kanon (=standard) Kitab Suci mereka: [1] Ditulis dalam bahasa Ibrani; [2] Sesuai dengan Kitab Taurat; [3] lebih tua dari jaman Ezra (sekitar 400 SM); [4] dan ditulis di Palestina. Atas kriteria-kriteria diatas mereka mengeluarkan kanon baru untuk menolak tujuh buku dari kanon Alexandria, yaitu seperti yang tercantum dalam Septuagint, yaitu: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh, 1 Makabe, 2 Makabe, berikut tambahan-tambahan dari kitab Ester dan Daniel. (Catatan: Surat Nabi Yeremia dianggap sebagai pasal 6 dari kitab Barukh). Hal ini dilakukan atas alasan bahwa mereka tidak dapat menemukan versi Ibrani dari kitab-kitab yang ditolak diatas.
Gereja Kristen tidak menerima hasil keputusan rabbi-rabbi Yahudi ini dan tetap terus menggunakan Septuagint. Pada konsili di Hippo tahun 393 Masehi dan konsili Kartago tahun 397 Masehi, Gereja secara resmi menetapkan 46 kitab hasil dari kanon Alexandria sebagai kanon bagi Kitab-kitab Perjanjian Lama. Selama enam belas abad, kanon Alexandria diterima secara bulat oleh Gereja. Masing-masing dari tujuh kitab yang ditolak oleh konsili Jamnia, dikutip oleh para Bapa Gereja perdana (Church Fathers) sebagai kitab-kitab yang setara dengan kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Lama. Bapa-bapa Gereja, beberapa diantaranya disebutkan disini: St. Polycarpus, St. Irenaeus, Paus St. Clement, dan St. Cyprianus adalah para pemimpin spiritual umat Kristen yang hidup pada abad-abad pertama dan tulisan-tulisan mereka - meskipun tidak dimasukkan dalam Perjanjian Baru - menjadi bagian dari Deposit Iman. Tujuh kitab berikut dua tambahan kitab yang ditolak tersebut dikenal oleh Gereja Katolik sebagai Deuterokanonika (second-listed), atau kanon kedua. Disebut demikian karena disertakan dalam kanon Kitab Suci setelah melalui banyak perdebatan.
GEREJA KATOLIK MENDAHULUI KITAB PERJANJIAN BARU
Seperti Kitab-kitab Perjanjian Lama, Kitab-kitab Perjanjian Baru juga tidak ditulis oleh satu orang, tetapi adalah hasil karya setidaknya delapan orang. Kitab Perjanjian Baru terdiri dari 4 kitab Injil, 14 surat Rasul Paulus, 2 surat Rasul Petrus, 1 surat Rasul Yakobus, 1 surat Rasul Yudas, 3 surat Rasul Yohanes dan Wahyu Rasul Yohanes dan Kisah Para Rasul yang ditulis oleh Santo Lukas, yang juga menulis Kitab Injil yang ketiga. Sejak kitab Injil yang pertama yaitu Injil Matius sampai kitab Wahyu Yohanes, ada kira-kira memakan waktu 50 tahun. Tuhan Yesus sendiri, sejauh yang kita ketahui, tidak pernah menuliskan satu barispun dari kitab Perjanjian Baru. Dia tidak pernah memerintahkan para Rasul untuk menuliskan apapun yang diajarkan oleh-Nya. Melainkan Dia berkata: "Maka pergilah dan ajarlah segala bangsa" (Matius 28:19-20), "Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku" (Lukas 10:16).
Apa yang Yesus perintahkan kepada mereka persis sama seperti apa yang Yesus sendiri lakukan: menyampaikan Firman Allah kepada orang-orang melalui kata-kata, meyakinkan, mengajar, dan menpertobatkan mereka dengan bertemu muka. Jadi bukan melalui sebuah buku yang mungkin bisa rusak dan hilang, dan disalah tafsirkan dan diubah-ubah isinya, melainkan melalui cara yang lebih aman dan alami dalam menyampaikan firman yaitu dari mulut ke mulut. Demikianlah para Rasul mengajar generasi seterusnya untuk melakukan hal yang serupa setelah mereka meninggal. Oleh karena itu melalui Tradisi seperti inilah Firman Allah disampaikan kepada generasi-generasi umat Kristen sebagaimana pertama kali diterima oleh para Rasul.
Tidak satu barispun dari kitab-kitab Perjanjian Baru dituliskan sampai setidaknya 10 tahun setelah wafatnya Kristus. Yesus disalibkan pada circa tahun 33 dan kitab Perjanjian Baru yang pertama ditulis yaitu surat 1 Tesalonika baru ditulis sekitar tahun 50 Masehi. Sedangkan kitab terakhir yang ditulis yaitu kitab Wahyu Yohanes pada sekitar 90-100 Masehi. Jadi anda bisa melihat kesimpulan penting disini: Gereja dan iman Katolik sudah ada sebelum Alkitab dijadikan. Beribu-ribu orang bertobat menjadi Kristen melalui khotbah para Rasul dan missionaris di berbagai wilayah, dan mereka percaya kepada kebenaran Ilahi seperti kita percaya sekarang, dan bahkan menjadi orang-orang kudus tanpa pernah melihat ataupun membaca satu kalimatpun dari kitab Perjanjian Baru. Ini karena alasan yang sederhana yaitu bahwa pada waktu itu Alkitab seperti yang kita kenal, belum ada. Jadi, bagaimanakah mereka menjadi Kristen tanpa pernah melihat Alkitab? Yaitu dengan cara yang sama orang non-Kristen menjadi Kristen pada masa kini, yaitu dengan mendengar Firman Allah dari mulut para misionaris.
GEREJA KATOLIK MENETAPKAN KITAB PERJANJIAN BARU
Ke-dua puluh tujuh kitab diterima sebagai Kitab Suci Perjanjian Baru baik oleh umat Kristen Katolik maupun Kristen lain. Pertanyaannya adalah: Siapa yang memutuskan kanonisasi Perjanjian Baru sebagai kitab-kitab yang berasal dari inspirasi Allah? Kita tahu bahwa Alkitab tidak jatuh dari langit, jadi darimana kita tahu bahwa kita bisa percaya kepada setiap kita-kitab tersebut?
Berbagai uskup membuat daftar kitab-kitab yang diakui sebagai inspirasi Ilahi, diantaranya: [1] Mileto, uskup Sardis pada tahun 175 Masehi; [2] Santo Irenaeus, uskup Lyons - Perancis pada tahun 185 Masehi; [3] Eusebius, uskup Caesarea pada tahun 325 Masehi.
Pada tahun 382 Masehi, didahului oleh Konsili Roma, Paus Damasus menulis dekrit yang menulis daftar kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdiri dari 73 kitab.
Konsili Hippo di Afrika Utara pada tahun 393 menetapkan ke 73 kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Konsili Kartago di Afrika Utara pada tahun 397 menetapkan kanon yang sama untuk Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Catatan: Ini adalah konsili yang dianggap oleh banyak pihak non-Katolik sebagai yang menentukan bagi kanonisasi kitab-kitab dalam Perjanjian Baru.
Paus Santo Innocentius I (401-417) pada tahun 405 Masehi menyetujui kanonisasi ke 73 kitab-kitab dalam Alkitab dan menutup kanonisasi Alkitab.
Jadi kanonisasi Alkitab telah ditetapkan di abad ke empat oleh konsili-konsili Gereja Katolik dan para Paus pada masa itu. Sebelum kanon Alkitab ditetapkan, ada banyak perdebatan. Ada yang beranggapan bahwa beberapa kitab Perjanjian Baru seperti surat Ibrani, surat Yudas, kitab Wahyu, dan surat 2 Petrus, adalah bukan hasil inspirasi Allah. Sementara pihak lain berpendapat bahwa beberapa kitab yang tidak dikanonisasi seperti: Gembala Hermas, Injil Petrus dan Thomas, surat-surat Barnabas dan Clement adalah hasil inspirasi Allah. Keputusan resmi wewenang Gereja Katolik menyelesaikan hal diatas sampai sekitar 1100 tahun kemudian. Hingga jaman Reformasi Protestan, praktis tidak ada lagi perdebatan akan kitab-kitab dalam Alkitab.
Melihat sejarah, Gereja Katolik menggunakan wibawa dan kuasanya untuk menentukan kitab-kitab yang mana yang termasuk dalam Alkitab dan memastikan bahwa segala yang tertulis dalam Alkitab adalah hasil inspirasi Allah. Jika bukan karena Gereja Katolik, maka umat Kristen tidak akan dapat mengetahui yang mana yang benar.
KITAB VULGATA - KARYA SANTO YEREMIA
Ketika Kabar Gembira telah tersebar luas dan banyak orang menjadi Kristen, merekapun dibekali dengan terjemahan Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa asli mereka yaitu Armenia, Siria, Koptik, Arab dan Ethiopia bagi umat Kristen perdana di wilayah-wilayah ini. Bagi umat Kristen di Afrika dimana bahasa Latin paling luas digunakan, ada terjemahan kedalam bahasa Latin yang dibuat sekitar tahun 150 Masehi dan juga terjemahan berikutnya bagi umat di Italia. Akan tetapi semua ini akhirnya digantikan oleh karya besar yang dibuat oleh Santo Yeremia dalam bahasa Latin yang disebut "Vulgata" pada abad ke-empat. Pada masa itu ada kebutuhan besar akan Kitab Suci dan ada bahaya karena variasi terjemahan yang ada. Oleh karena itu sang biarawan, yang mungkin pada waktu itu adalah orang yang paling terpelajar, atas perintah Paus Santo Damascus pada tahun 382, membuat terjemahan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Latin dan mengoreksi versi-versi yang ada dalam bahasa Yunani. Lantas di Bethlehem antara tahun 392-404, dia juga menterjemahkan Kitab-kitab Perjanjian Lama langsung dari bahasa Ibrani (jadi bukan dari Septuagint) kedalam bahasa Latin, kecuali kitab Mazmur yang direvisi dari versi Latin yang sudah ada. Ini adalah Alkitab lengkap yang diakui resmi oleh wewenang Gereja Katolik, yang nilainya tak terukur menurut para ahli alkitab masa kini, dan terus mempengaruhi versi-versi lainnya sampai pada jaman Reformasi Protestan. Dari Vulgata inilah dihasilkan terjemahan dalam bahasa Inggris yang terkenal yaitu Douai-Rheims Bible.
HILANGNYA KITAB-KITAB ASLI
Hingga ditemukannya mesin cetak pada tahun 1450, semua Alkitab adalah hasil salinan tangan yang kita sebut manuskrip. Alkitab lengkap tertua yang masih ada hingga sekarang berasal dari abad ke-empat, dan isinya sama dengan Alkitab yang dipegang oleh umat Katolik yaitu terdiri dari 73 kitab. Apa yang terjadi dengan manuskrip-manuskrip asli yang ditulis oleh para penulis kitab Injil? Ada beberapa alasan akan hilangnya kitab-kitab asli tersebut:
Beberapa ratus tahun pertama adalah masa-masa penganiayaan terhadap umat Kristen. Para penguasa yang menindas Gereja Katolik menghancurkan segala hal yang menyangkut Kristenitas yang bisa mereka temukan. Selanjutnya, kaum pagan (non-Kristen) juga secara berulang-ulang menyerang kota-kota dan perkampungan Kristen dan membakar dan menghancurkan gereja dan segala benda-benda religius yang dapat mereka temukan disana. Lebih jauh lagi, mereka bahkan memaksa umat Kristen untuk menyerahkan kitab-kitab suci dibawah ancaman nyawa, lantas membakar kitab-kitab tersebut.
Alasan lainnya: media yang dipakai untuk menuliskan ayat-ayat Alkitab, disebut papirus - sangat mudah hancur dan tidak tahan lama, sedangkan perkamen, yang terbuat dari kulit binatang dan lebih tahan lama, sulit didapat. Kedua materi inilah yang disebutkan dalam 2 Yohanes 1:12 dan 2 Timotius 4:13. Umat Kristen perdana, setelah membuat salinan Alkitab, juga tampak tidak terlalu peduli untuk menjaga kitab aslinya. Mereka tidak beranggapan penting untuk memelihara tulisan-tulisan asli oleh Santo Paulus atau Santo Matius oleh karena mereka percaya penuh kepada kuasa mengajar Gereja Katolik yang mengajarkan iman Kristen melalui para Paus dan para uskup-uskupnya. Umat Katolik tidak melandaskan ajaran-ajarannya pada Alkitab semata-mata, tetapi juga kepada Tradisi Hidup, dari Gereja Katolik yang infallible. ubi Ecclesia, ibi Christus.
ALKITAB PADA ABAD PERTENGAHAN
Segenap umat Kristen berhutang budi kepada para kaum religius, imam, biarawan dan biarawati yang menyalin, memperbanyak, memelihara dan menyebar-luaskan Alkitab selama berabad-abad. Para biarawan adalah kaum yang paling terpelajar pada jamannya dan salah satu kegiatan utama mereka adalah menyalin isi Alkitab sedangkan biara-biara menjadi pusat penyimpanan naskah-naskah Alkitab ini. Umumnya masing-masing biara-biara di abad pertengahan memiliki perpustakaan tersendiri. Tidak kurang dari para raja dan kaum bangsawan dan orang-orang terkenal meminjam dari biara-biara ini. Para raja dan kaum bangsawan itu sendiri, bersama para Paus, uskup dan kepala-kepala biara, sering menghadiahkan Kitab Suci yang diberi hiasan yang indah kepada biara-biara dan gereja-gereja di seluruh Eropa.
Untuk menyalin satu Alkitab lengkap, diperlukan sekurangnya 10 bulan tenaga kerja dan sejumlah besar perkamen yang mahal harganya untuk memuat lebih dari 35000 ayat-ayat dalam Alkitab. Hal ini menjelaskan mengapa orang banyak tidak mampu memiliki setidaknya satu set Alkitab lengkap di rumah-rumah mereka. Mereka biasanya hanya memiliki salinan dari sejumlah pasal dalam Alkitab yang populer. Jadi kebiasaan memiliki bagian tertentu dari Alkitab secara terpisah adalah kebiasaan yang sepenuhnya Katolik dan yang hingga kini masih dilakukan.
Alkitab pada abad pertengahan umumnya ditulis dalam bahasa Latin. Hal ini dilakukan sama sekali bukan dimaksudkan untuk menyulitkan umat yang ingin membacanya. Kebanyakan orang pada masa itu buta huruf, sedangkan mereka yang mampu membaca, juga dapat mengerti bahasa Latin. Latin adalah bahasa universal pada waktu itu. Mereka yang mampu membaca lebih menyukai membaca Vulgata, versi Latin dari Alkitab. Oleh karena kenyataan tersebut, tidak ada alasan kuat untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa setempat secara besar-besaran. Namun meski demikian harap diingat bahwa sepanjang sejarah Gereja Katolik tetap menyediakan terjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa setempat.
MARTIN LUTHER DAN ALKITAB PROTESTAN
Pada tahun 1529, Martin Luther mengajukan kanon Palestina yang menetapkan 39 kitab dalam bahasa Ibrani sebagai kanon Perjanjian Lama. Luther mencari pembenaran dari keputusan konsili Jamnia (yang adalah konsili imam Yahudi, jadi bukan sebuah konsili Gereja Kristen!) bahwa tujuh kitab yang dikeluarkan dari Perjanjian Lama tidak memiliki kitab-kitab aslinya dalam bahasa Ibrani. Luther melakukan hal tersebut terutama karena sejumlah ayat-ayat yang terdapat pada kitab-kitab tersebut justru menguatkan doktrin-doktrin Gereja Katolik dan bertentangan dengan doktrin-doktrin baru yang dikembangkan oleh Martin Luther sendiri.
Oleh karena alasan yang serupa, Martin Luther juga nyaris membuang beberapa kitab-kitab lainnya: surat Yakobus, surat Ibrani, kitab Ester dan kitab Wahyu. Hanya karena bujukan kuat oleh para pendukung kaum reformasi Protestan yang lebih konservatif maka kitab-kitab diatas tetap dipertahankan dalam Alkitab Protestan. Namun demikian, tidak kurang Martin Luther mengecam bahwa surat Yakobus tidak pantas dimasukkan dalam Alkitab.
Untuk mendukung salah satu doktrinnya yang terkenal yaitu Sola Fide (bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman saja), dalam Alkitab terjemahan bahasa Jerman, Martin Luther menambahkan kata 'saja' pada surat Roma 3:28. Sehingga ayat tersebut berbunyi: "Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman saja, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat". Tidak heran kalau Martin Luther meremehkan surat Rasul Yakobus dan berusaha untuk membuangnya dari Perjanjian Baru, karena justru dalam surat Yakobus ada banyak ayat yang menjatuhkan doktrin Sola Fide yang diciptakan oleh Martin Luther tersebut. Antara lain, dalam Yakobus 2:14-15 tertulis: "Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?" dan Yakobus 2:17 "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati" dan Yakobus 2:24 "Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman."
Pertanyaannya sekarang adalah: Kitab Perjanjian Lama manakah yang lebih baik anda baca? Kitab Perjanjian Lama yang digunakan oleh Yesus, para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru dan Gereja purba? Atau Kitab Perjanjian Lama yang ditetapkan oleh imam-imam Yahudi yang menolak Yesus Kristus dan menindas umat Kristen purba?
ALKITAB KATOLIK
Bahkan sebelum pecahnya Reformasi Protestan, ada banyak versi-versi Alkitab yang beredar pada masa itu. Banyak diantaranya mengandung kesalahan-kesalahan yang disengaja - seperti dalam kasus-kasus kaum bidaah, penyeleweng ajaran gereja yang berusaha mendukung doktrin-doktrin yang mereka ciptakan sendiri, dengan menuliskan Alkitab yang sudah diganti-ganti isinya. Ada juga kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja oleh karena faktor manusia (human error), mengingat pekerjaan menyalin Alkitab dilakukan dengan tulisan tangan, ayat demi ayat, yang sangat memakan waktu dan tenaga.
Oleh karena itu pada Konsili di Florence pada abad ke lima belas, para pemimpin Gereja menguatkan keputusan yang dibuat pada konsili-konsili sebelumnya mengenai kitab-kitab yang ada dalam Alkitab.
Setelah meletusnya Reformasi Protestan, pada Konsili Trente oleh Gereja Katolik pada tahun 1546 dikeluarkanlah dekrit yang mensahkan Vulgata, versi Latin dari Alkitab sebagai satu-satunya versi resmi yang diakui dan sah untuk umat Katolik. Alkitab ini direvisi oleh Paus Sixtus V pada tahun 1590 dan juga oleh Paus Clement VIII pada tahun 1593.
Selanjutnya pada konsili Vatikan I, kembali Gereja Katolik menegaskan keputusan konsili-konsili sebelumnya tentang Alkitab.
Oleh karena itu di akhir tulisan ini, kita dapat membuat beberapa kesimpulan:
Berdasarkan sejarah, Alkitab adalah sebuah kitab Katolik. Perjanjian Baru ditulis, disalin dan dikoleksi oleh umat Kristen Katolik. Kanon resmi dari kitab-kitab yang membentuk Alkitab - Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru - ditentukan secara berwibawa oleh wewenang Gereja Katolik pada abad ke empat.
Menuruti akal sehat dan logika, Gereja Katolik yang memiliki kuasa untuk menentukan Firman Allah yang infallible - bebas dari kesalahan -, pasti juga memiliki otoritas yang infallible - bebas dari kesalahan - dan juga bimbingan dari Roh Kudus. Seperti telah anda lihat, terlepas dari deklarasi oleh Gereja Katolik, kita sama sekali tidak memiliki jaminan bahwa apa yang tertulis dalam Alkitab adalah Firman Allah yang asli. Jika anda percaya kepada isi Alkitab maka anda juga harus percaya kepada wibawa Gereja Katolik yang menjamin keaslian Alkitab. Adalah suatu kontradiksi bagi seseorang untuk menerima kebenaran Alkitab tetapi menolak wibawa Gereja Katolik. Logikanya, mereka mestinya tidak mengutip isi Alkitab sama sekali, karena mereka tidak memiliki pegangan untuk menentukan kitab-kitab mana saja yang asli, kecuali tentunya kalau mereka menerima wibawa mengajar Gereja Katolik.
TANYA - JAWAB
Pertanyaan: Mengapa Alkitab umat Katolik terdiri dari 73 kitab sedangkan Alkitab umat Protestan terdiri dari 66 kitab?
Jawaban: Gereja Katolik melandaskan Perjanjian Lama pada Kanon Alexandria - lebih dari satu abad sebelum kelahiran Yesus Kristus - yang menetapkan 43 kitab yang disebut Septuagint sebagai kitab-kitab Perjanjian Lama. Protestan melandaskan Perjanjian Lama pada Kanon Palestina yang diadakan oleh imam-imam Yahudi untuk memerangi umat Kristen, sekitar tahun 100 Masehi. Perlu dicatat bahwa baik Yesus maupun para murid-muridNya menggunakan Septuagint yaitu berdasarkan Kanon Alexandria. Tidakkah anda sebagai umat Kristen, mestinya memakai Kitab Perjanjian Lama yang dipergunakan oleh Yesus dan para murid-muridNya, dan bukan malahan menggunakan versi Perjanjian Lama yang ditetapkan oleh para imam Yahudi yang ditetapkan puluhan tahun setelah wafat dan kebangkitan Yesus?
Pertanyaan: Benarkah bahwa Gereja Katolik pernah melarang umat Kristen untuk membaca Alkitab dan apakah benar bahwa atas berkat jasa Martin Luther maka umat Katolik sekarang boleh membaca Alkitab?
Jawaban: Satu-satunya kejadian dalam sejarah Gereja menyangkut larangan kaum awam membaca/memiliki Alkitab dikeluarkan hanya oleh beberapa uskup di Perancis pada abad ke-13 untuk memerangi kaum bidaah Albigensian di Perancis. Larangan itu dihapuskan 40 tahun kemudian setelah pupusnya pendukung bidaah tersebut. Jadi wewenang Gereja Katolik tidak pernah mengeluarkan larangan kepada umat Katolik untuk membaca Alkitab. Apalagi anggapan bahwa Martin Luther memiliki jasa apapun atas Gereja Katolik. Ada dongeng yang mengisahkan bahwa Martin Luther-lah yang "menemukan" Alkitab. Tapi kalau anda membaca buku-buku sejarah gereja yang berbobot, maka anda akan menemukan bahwa justru Martin Luther-lah yang bertanggung jawab menghapuskan kitab-kitab Deuterokanonika dari Perjanjian Lama, dan bahkan nyaris menghapuskan lebih banyak lagi kitab-kitab dari dalam Alkitab.
Pertanyaan: Benarkah bahwa Gereja Katolik mempersulit umat Kristen untuk membaca Alkitab dengan hanya menyediakan terjemahan dalam bahasa Latin?
Jawaban: Pada waktu itu, orang yang mampu membaca, juga mampu membaca Latin. Karena Latin adalah bahasa internasional pada jaman itu. Lebih jauh lagi, Vulgata, versi Latin dari Alkitab hasil karya Santo Yeremia amat digemari oleh umat Kristen. Jadi tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk menyediakan Alkitab dalam berbagai bahasa. Namun demikian ada juga terjemahan Kitab Suci dalam bahasa-bahasa setempat.
Pertanyaan: Benarkah bahwa Gereja Katolik pernah membakar Alkitab?
Jawaban: Selama berabad-abad Gereja dilanda oleh berbagai bidaah (heresy). Para pendukung bidaah menggunakan Alkitab yang sudah diselewengkan isinya untuk mendukung doktrin-doktrin mereka sendiri. Gereja Katolik sebagai penjaga keaslian Alkitab juga berhak dan berwibawa untuk memastikan bahwa umat Kristen memiliki Alkitab yang isinya tidak dikorupsi demi kepentingan sekelompok orang. Oleh karena itu otoritas Gereja Katolik memusnahkan alkitab-alkitab yang isinya mengandung kesalahan ini dan sebagai gantinya menyediakan Alkitab yang murni isinya. Martin Luther bukan satu-satunya orang yang pernah mengubah isi Alkitab.
Pertanyaan: Jika penggunaan Alkitab meluas pada abad-abad pertengahan, mengapa hanya sedikit kitab-kitab kuno ini yang tertinggal?
Jawaban: Ada beberapa alasan. Pertama, ada banyak terjadi peperangan sehingga banyak manuskrip-manuskrip kuno ini ikut musnah. Kedua, media yang dipergunakan mudah rusak dan tidak tahan lama. Ketiga, pengrusakan besar-besaran yang dilakukan dengan sengaja seperti pada masa pecahnya reformasi Protestan. Kaum pendukung reformasi Protestan menghancurkan segala hal yang berbau Katolik. Gereja-gereja, biara-biara, tempat-tempat ziarah beserta penghuni dan semua isinya yang bernilai tinggi menjadi korban pergolakan.
Pertanyaan: Mengapa kitab-kitab yang ditolak dari Perjanjian Lama oleh imam-imam Yahudi itu disebut sebagai Deuterokanonika?
Jawaban: Deuterokanonika artinya kira-kira kanon kedua. Disebut demikian karena disertakan setelah melalui banyak perdebatan. Santo Yeremia sendiri pernah mengutarakan kekhawatirannya akan keaslian kitab-kitab tersebut. Akan tetapi keputusan konsili-konsili Gereja Katolik dan para Paus menghentikan perdebatan dan menghapus kekhawatiran para ahli teologi pada masa itu. Santo Agustinus dari Hippo - salah satu Bapa dan Pujangga Gereja - pernah mengatakan begini: "Aku tidak akan meletakkan imanku pada kitab Injil, jika bukan karena otoritas Gereja Katolik yang mengarahkan aku untuk berbuat demikian." Bahwa keputusan Gereja Katolik untuk tetap mempertahankan kitab-kitab Deuterokanonika dan mengabaikan Kanon Palestina, menunjukkan bimbingan Roh Kudus yang membawa kepada segala kebenaran (Yohanes 16:13). Ketika Gulungan-gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) ditemukan di Qumran, tepi barat sungai Yordan pada abad ke-20 ini, diantaranya terdapat sebagian salinan-salinan asli dalam bahasa Ibrani atas sejumlah kitab-kitab Deuterokanonika.
Pertanyaan: Mengapa disebutkan bahwa Deuterokanonika terdiri dari tujuh kitab sedangkan dalam Alkitab bahasa Indonesia yang saya miliki ada sepuluh bagian dalam Deuterokanonika?
Jawaban: Tujuh kitab-kitab tersebut adalah Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh, Barukh, 1 Makabe dan 2 Makabe. Tambahan-tambahan pada kitab Ester dan Daniel tentunya dimasukkan kedalam kitab-kitab yang bersangkutan sedangkan Surat Nabi Yeremia dimasukkan sebagai pasal 6 dari kitab Barukh. Dalam Alkitab bahasa Indonesia terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, kitab-kitab Deuterokanonika diletakkan ditengah, jadi tidak sesuai urutan yang semestinya. Ini untuk memudahkan penerbit yang sama menerbitkan Alkitab versi Protestan, yaitu tanpa Deuterokanonika. Jika anda membeli Alkitab dalam bahasa Inggris seperti di Amerika contohnya, kitab-kitab Deuterokanonika dimasukkan dalam urutannya yang alami. Perlu juga disebutkan disini bahwa versi-versi Alkitab Protestan pada awalnya - seperti versi asli King James Bible - masih memiliki Deuterokanonika di dalamnya.
Pertanyaan: Ada berapakah versi Alkitab dalam bahasa Inggris?
Jawaban: Dalam bahasa Inggris, ada beberapa versi Alkitab baik bagi umat Katolik maupun Protestan. Bagi umat Katolik ada versi RSVCE (Revised Standard Version Catholic Edition) yang dipakai sebagai terjemahan resmi. Ada NAB (New American Bible) yaitu yang merupakan Alkitab yang populer di kalangan umat Katolik di Amerika Serikat. Ada juga NJB (New Jerusalem Bible) yaitu Alkitab yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani dan dipakai oleh sebagian kalangan Gereja Katolik dari ritus-ritus Timur. RSVCE adalah versi yang paling serupa dengan bahasa asli kitab suci karena merupakan terjemahan kata-demi-kata. Sedangkan NAB dan NJB serta beberapa versi lainnya merupakan terjemahan yang sudah disesuaikan dengan pemakaian bahasa Inggris pada masa kini, jadi penekanan pada segi arti dari kata-kata/kalimat yang dipakai pada bahasa asli kitab suci. Beberapa versi Alkitab Protestan, diantaranya adalah: RSV (Revised Standard Version), KJV (King James Version), NIV (New International Version), Tyndale Bible dan Zonderfan Bible. Untuk mengenalinya mudah saja, di dalamnya tidak terdapat kitab-kitab Deuterokanonika. Sebetulnya ada juga yang menyertakan kitab-kitab Deuterokanonika, yaitu yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit sekuler seperti Oxford dan lain-lain. Namun mereka menyebut Deuterokanonika dengan sebutan Apokrif (Apocripha). Alkitab-alkitab Katolik juga memiliki Imprimatur dan Nihil-Obstat yang dapat anda temukan pada bagian muka dari Alkitab tersebut. Ini praktisnya adalah tanda bahwa buku yang bersangkutan telah diperiksa oleh Gereja Katolik, apakah itu imam ataupun uskup. Jika anda ingin memiliki Alkitab Katolik bahasa Inggris, silakan membeli salah satu versi Katolik yang telah disebutkan diatas. Alkitab NAB selalu memiliki catatan kaki yang membantu memperjelas ayat-ayat dan perikop-perikop dalam Kitab Suci. NAB study-bible terbitan Oxford juga dilengkapi dengan penjelasan-penjelasan sejarah PL dan PB. Harga Alkitab NAB bahasa Inggris bervariasi sekitar US$7 sampai US$24.
Pertanyaan: Ada sementara orang yang percaya bahwa di dalam Alkitab umat Kristiani telah terjadi salah terjemahan yang sangat fatal: yaitu kata "Lord" dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai "Tuhan" dalam bahasa Indonesia, padahal kamus Inggris-Indonesia menyebutkan bahwa kata "lord" mestinya diterjemahkan sebagai "tuan", bukan "Tuhan". Dengan demikian hal ini mendukung teori agama mereka yang mengatakan bahwa Yesus jelas bukan Tuhan dan sekedar manusia biasa.
Jawaban: Pertama-tama perlu ditegaskan disini, bahwa Alkitab bahasa Indonesia tidaklah diterjemahkan dari Alkitab bahasa Inggris. Lihatlah pada bagian awal Alkitab dimana tertulis bahwa "Teks Perjanjian Lama diterjemahkan dari Bahasa Ibrani. Teks Perjanjian Baru diterjemahkan dari Bahasa Yunani. Teks Deuterokanonika diterjemahkan dari Bahasa Yunani". Kedua, perlu diketahui bagi orang Indonesia yang jelas bukan native English speaker - bahwa kata "Lord" dalam Alkitab berarti "God" atau "Tuhan". Kata "Lord" bukan hanya digunakan pada Yesus, tetapi juga pada Allah Bapa dalam ayat-ayat Perjanjian Lama.
Selasa, 02 Agustus 2011
KEADILAN, KEBENARAN DAN KEJUJURAN
Keadilan
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran" [1]. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di dunia yang adil" [2]. Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya
Kebenaran
Tiada perasaan lainnya dalam jiwa manusia yang dapat membawa suka cita dan kebahagiaan dari pada mengetahui bahwa Anda sedang melakukan segala sesuatu untuk menjadi orang yang benar.
Kita hidup pada masa di mana banyak pria dan wanita tidak mempertimbangkan moralitas terhadap tindakan mereka, makanya mereka percaya bahwa apa yang mereka lakukan hanya memiliki akibat sosial. Dalam hal ini mereka mengyangkal Allah, dan mereka juga menyangkal bahwa hal-hal kalau tidak benar adalah salah.
Setiap dari kita pada suatu saat atau lainnya telah mendengar pernyataan, "baiklah, lakukan apa yang Anda ingin lakukan," dan hal itu sama dengan kebanyakan penduduk bumi ini.
Saya bersaksi kepada Anda bahwa ada cara yang lebih baik. Itu adalah untuk menjalankan hidup yang benar.
Kata kebenaran adalah kata yang paling menarik dan unik. Itu adalah sebuah kata yang meliputi deretan elemen yang luas yang menyebar dan mencakup semua sifat Allah. Orang seperti itu, yang saleh, adalah seperti Allah.
Benar dan salah memang ada dan saling bertentangan. Tindakan manusia tentunya mempunyai akibat moral. Injil Yesus Kristus mendefinisikan kepada kita perbedaan antara apa yang baik dan apa yang jahat. Apa yang baik berasal dari Allah. Kristus berkata: "Dan segala sesuatu yang menggerakkan manusia untuk berbuat baik berasal dari Aku, karena kebaikan tiada lain, hanya berasal dari Aku. Akulah yang sama yang memimpin manusia kepada segala yang baik" (Eter 4:12).
Kebenaran adalah gabungan dari segala yang baik. Itu memeluk asas-asas kuasa surgawi dan hukum di mana segalah hal tentang Allah ditangani dan dikendalikan serta dikuasai.
Dalam kebenaran ada kesederhanaan yang besar. Dalam setiap pilihan yang menghadapi kita dalam kehidupan ada cara yang benar atau cara yang salah untuk melanjutkan. Jika kita memilih cara yang benar, kita didukung dalam tindakan kita dengan asas-asas kebenaran di mana ada kekuatan dari surga. Bila kita memilih cara yang salah dan bertindak pada pilihan itu, tiada janji atau kekuatan surgawi seperti itu, dan kita sendirian dan ditakdirkan untuk gagal.
Pertanyaan muncul: Bagaimana kita dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah? Seperti Bapa Surgawi kita yang mengirim Putra-Nya Yesus Kristus, untuk menciptakan bumi ini dan melaksanakan dan menguasai semua hal yang berkaitan dengan itu, maka Dia mengirim Roh Kudus untuk bertindak sebagai perantara antara manusia di bumi dan terang dari Roh.
Terang dari Roh diorganisasi sebagai sistem komunikasi untuk menyampaikan konsep kebenaran ke dalam pikiran anak-anak Allah. Sebagai perantara dari kuasa yang besar ini, Roh Kudus akan menerangi pikiran kita dan memberikan kepada kita kejelasan dalam memahami konsep kebenaran bila kita mematuhi hukum-hukum yang menguasai penggunaan Roh. Ini adalah cara di mana Bapa di Surga kita mengajari kita kebenaran dari kesalahan. Jika kita bersedia untuk belajar cara-Nya dan mematuhinya, kita tidak akan pernah perlu untuk menebak, tetapi akan selalu mengetahui dengan yakin perbedaan antara kebenaran dan kesalahan.
Dalam kebenaran ada pemenuhan iman dan pengharapan. Setiap berkat yang Tuhan janjikan kepada anak-anak-Nya adalah ditentukan berdasarkan ketaaatan terhadap hukum dan perintah-Nya. Ketaatan terhadap hukum dan perintah-Nya adalah yang membuat kita benar, dan kebenaran itu membuat kita memenuhi syarat menerima berkat-berkat yang dijanjikan.
Setiap dari kita hidup dengan keadaan masing-masing. Ada tantangan dengan kesehatan, ekonomi, pendidikan, hidup sendirian kesepian, tekanan, perundungan, pelanggaran dan daftar tiada habisnya tentang kondisi yang ada. Solusi pada segala tantangan ini adalah kebenaran.
Di mana ada ketidakpatuhan pada hukum dan perintah Allah, dalam kebaikan hati Dia memberikan bagi kita hukum pertobatan. Bila kita bertindak terhadap hukum yang luar biasa ini, kita akan diampuni dari ketidakpatuhan kita dan menjadi lebih benar, demikian pertobatan membimbing kita pada kebenaran. Banyak, secara nyata kebanyakan tantangan yang kita miliki dalam kehidupan fana dapat dipecahkan melalui pertobatan. Segalanya akan dapat diselesaikan akhirnya melalui kebenaran.
Ada suka cita dan kebahagian yang besar dalam berusaha untuk hidup benar. Dengan istilah yang sederhana, rencana Allah bagi anak-anak-Nya adalah bahwa mereka datang ke bumi ini dan berbuat segala sesuatu yang mereka bisa untuk belajar dan hidup dalam kepatuhan terhadap hukum-hukum. Kemudian, setelah mereka berbuat segala sesuatu, pekerjaan penyelamatan Juruselamat Yesus Kristus, cukup untuk berbuat segala yang tidak mereka bisa lakukan kepada diri mereka sendiri.
Nabi Moroni zaman dulu, sewaktu dia menyelasaikan tugas dan menutup ringkasan catatan tentang hubungan Allah dengan orang-orang-Nya, yang mana adalah Kitab Mormon, mengatakannya dengan cara ini: "Ya, datanglah kepada Kristus, dan jadilah sempurna di dalam Dia, dan tolaklah segala hal yang tidak bertuhan; dan jika kamu akan menyangkal segala hal yang tidak bertuhan dan mengasihi Allah dengan segala daya, pikiran dan kekuatanmu, maka karunia-Nya cukup untukmu, supaya oleh kasih karunia-Nya kamu menjadi sempurna dalam Kristus" (Moroni 10:32). Cara Moroni mengatakan berbuatlah segala sesuatu adalah untuk mengasihi Allah dengan segala daya pikiran dan kekuatanmu.
Berusaha untuk hidup benar adalah mencoba untuk melakukan segala sesuatu yang kita bisa dalam kepatuhan. Dengan ini datang kedamaian dalam dan penghiburan bahwa dalam melakukan segala yang kita bisa, rencana Allah kita akan selesai atas nama kita. Tiada perasaan lainnya dalam jiwa manusia yang dapat membawa sukacita dan kebahagian daripada mengetahui bahwa Anda sedang melakukan segala sesuatu untuk menjadi orang yang benar.
Dalam kebenaran ada keselamatan dan keamanan. Dengan itu kita mengikat Tuhan. Dia mengatakan: "Karena nama orang yang benar akan dituliskan di dalam kita kehidupan dan kepada mereka akan aku anugerahkan sebuah warisan di sebelah kanan-Ku. Saudara-saudaraku, apa yang dapat kamu katakan me-ngenai ini? Aku berkata kepadamu, jika kamu bicara menantangnya, tidak menjadi soal, karena firman Allah harus digenapi" (Alma 5:58).
Dalam dunia ini di mana pelanggaran, korupsi, dan terorisme menimbulkan ketakutan kepada manusia, di mana kita berpaling untuk keselamatan dan keamanan? Tidak ada keselamatan dan keamanan kecuali dalam kebenaran. Tidak ada tempat berlindung. Tidak ada tembok yang akan menahan iblis dan usahanya untuk menantang semua kebenaran. Tidak ada pembelaan terhadap yang tidak pasti dan yang tidak diketahui kecuali kebenaran. Ketakutan dalam hati dan pikiran manusia dapat menjadi damai hanya dengan menggantikan ketakutan itu dengan sebuah pengertian tentang rencana kebahagian Allah dan pengetahuan bahwa mereka melakukan segala sesuatu untuk menjadi benar dan layak untuk sesuai dengan keselamatan kekal.
Sewaktu kekuatan dari kebaikan dan kejahatan menjadi lebih jelas, mereka yang tidak mempunyai akibat moral pada kelakuan mereka akan menemukan kehidupan mereka dalam kekacauan di mana pola hidup mereka akan menjadi berat bagi mereka. Kemudian wahyu akan digenapi di mana dikatakan: "Dan segala sesuatu akan menjadi kacau dan sesungguhnya, manusia akan hilang keberaniannya, karena rasa takut akan menimpa semua orang" (A&P 88:91).
Bila harinya tiba, Orang-orang Suci Allah yang saleh akan menjadi satu-satunya umat yang dikuasai dengan baik dengan siapa dunia akan dapat berpaling. Di sanalah di mana mereka akan menemukan kestabilan dan kekokohan. Mereka akan datang, dengan tidak mengetahui ajaran dari yang benar, tetapi itu akan menjadi seperti yang diramalkan: "Karena lihatlah, Aku berfirman kepadamu bahwa Sion akan berkembang dan kemuliaan Tuhan akan berada di atasnya. Dan dia akan menjadi sebuah panji bagi bangsa-bangsa dan akan datang kepadanya orang-orang dari segala bangsa di kolong langit" (A&P 64:41¬42).
Kebenaran adalah cara yang lebih baik. Akhirnya, itulah cara satu-satunya. Dalam kebenaran ada kekuatan untuk menyediakan suka cita dan kebahagian dan keamanan dan keselamatan yang diinginkan dan dicari dari semua masa generasi
Kelihatannya seperti solusi yang sederhana tetapi kenyataannya adalah bahwa "Setan berkeliaran di negeri dan dia melanjutkan menipu bangsa-bangsa" (A&P 52:14). Ada pertentangan. Benar dan salah memang ada. Tindakan kita sungguh mempunyai akibat moral. Tidak ada cara benar untuk melakukan hal yang salah.
Sebagai seorang yang dipanggil sebagai saksi Yesus Kristus dan untuk memaklumkan injil-Nya, saya memohon bahwa Anda tidak akan menunda melakukan segala sesuatu yang Anda dapat lakukan. Bahwa Anda akan berusaha untuk me- ngetahui hukum-hukum dan perintah-perintah-Nya dan bekerja dengan mendesak untuk mematuhinya. Dengan ini Anda akan memasuki sebuah proses yang akan membuat Anda saleh dan demikian layak untuk berkat-berkat yang dijanjikan.
Yesus Kristus adalah pemimpin pekerjaan ini. Dia adalah Allah kebenaran. Dalam belas kasih-Nya yang penuh kebaikan budi Dia menyediakan bagi kita seorang Nabi yang benar, dengan siapa, yang jika kita ikuti, kita akan melakukan apa yang benar. Untuk kebenaran dari kenyataan ini dan kata-kata yang saya ucapkan saya bersaksi dalam nama Yesus Kristus, amin.
KEJUJURAN
Arti jujur
Jujur jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.
Kenapa harus jujur?
Saya sering mendengar orang tua menasehati anak supaya harus menjadi orang yang jujur. Dalam mendidik dan memotivasi supaya seorang anak menjadi orang yang jujur, kerap kali dikemukakan bahwa menjadi orang jujur itu sangat baik, akan dipercaya orang, akan disayang orang tua, dan bahkan mungkin sering dikatakan bahwa kalau jujur akan disayang/dikasihi oleh Tuhan. Tapi setelah mencoba merenungkan dan menyelami permasalahan kejujuran ini, saya masih merasa tidak mengerti: "Kenapa jadi orang harus jujur?"
Umumnya jawaban yang saya dapat adalah bahwa kejujuran adalah hal yang sangat baik dan positif, dan kadang saya juga mendapat jawaban bahwa "Pokoknya jadi orang harus jujur!"
Jawaban-jawaban tersebut sampai saat ini memang sudah saya anggap "benar", tapi saya masih selalu tergelitik untuk terus mempertanyakan: "Kenapa orang harus jujur? Apakah baik dan positifnya? Lalu bagaimana juga jika dikaitkan dengan proses Siu Tao ( ) kita?"
Bagaimana bersikap jujur
Selain pertanyaan - pertanyaan diatas, selanjutnya dalam benak saya timbul pertanyaan: " Bagaimanakah kejujuran itu dapat dipraktekkan dalam sehari-hari, serta bagaimanakah sikap kita sebagai (dibaca: agar dapat menjadi) seorang Tao Yu ( ) yang jujur?"
• Apakah kita sama sekali tidak boleh berbohong?
• Dan mungkinkah kita selalu jujur dalam kehidupan sehari-hari ini?
• Ataukah masih ada toleransi bagi kita untuk berbohong dalam hal-hal tertentu atau demi kepentingan tertentu?
Nah, sekali lagi saya mengajak para pembaca untuk merenungkannya bersama!
Contoh yang "Lucu" (dibaca: tidak jujur)
Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering melihat (bahkan juga ikut terlibat) dalam berbagai macam bentuk aktivitas interaksi sosial dimasyarakat, yang justru kebanyakannya adalah wujud realisasi dari sikap tidak jujur dalam skala yang sangat bervariasi, seperti:
Sering terjadi, orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata "Oh, tidak apa-apa! Anak pintar, enggak sakit, kok! Jangan nangis, yach!".
Menurut saya, dalam hal ini secara tidak langsung si-anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat "berbohong", menutup-nutupi perasaannya (sakit) hanya karena suatu kepentingan (supaya tidak menangis).
Selain itu saya juga sering melihat dan mengalami kejadian seperti: Saat seseorang bertamu kerumah orang lain, ketika ditanya: " Sudah makan, belum?", walaupun saya yakin tawaran sang tuan rumah "serius" biasanya dengan cepat saya akan menjawab "Oh, sudah!! Kita baru saja makan ", padahal sebenarnya saya belum makan.
Dalam lingkungan usaha / dagang, kejujuran sering disebut-sebut sebagai modal yang penting untuk mendapatkan kepercayaan. Akan tetapi sangat kontroversial dan lucunya kok dalam setiap transaksi dagang itulah justru banyak sekali kebohongan yang terjadi. Sebuah contoh saja: penjual yang mengatakan bahwa dia menjual barang "tanpa untung" atau "bahkan rugi" hampir bisa diyakini pasti bohong.
• Nah, jika demikian, lalu dimanakah letaknya kejujuran itu?
• Atau bagaimanakah kejujuran yang dimaksud tersebut dapat diaplikasikan dalam dunia sehari-hari?
Dalam Siu Tao
• Apakah belajar Tao ( ) mengejar Kesempurnaan harus tidak pernah berbohong sama sekali?
• Lalu bagaimanakah kita dapat menjalani hidup ini yang juga mau tidak mau "harus" bertopeng?
• Apakah mungkin, kita bisa tidak pernah berbohong sama sekali dalam hidup ini?
Pernah saya mencoba meyakinkan diri bahwa saya memang sudah "Jujur", tapi kemudian akhirnya saya kesulitan menjawab pertanyaan: "Apakah saya tidak membohongi diri sendiri?"
Lalu bagaimanakah sebenarnya? Nah, semoga para pembaca budiman bisa memberikan jawabannya (tentunya jawaban yang jujur , lho!).
Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran" [1]. Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di dunia yang adil" [2]. Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya
Kebenaran
Tiada perasaan lainnya dalam jiwa manusia yang dapat membawa suka cita dan kebahagiaan dari pada mengetahui bahwa Anda sedang melakukan segala sesuatu untuk menjadi orang yang benar.
Kita hidup pada masa di mana banyak pria dan wanita tidak mempertimbangkan moralitas terhadap tindakan mereka, makanya mereka percaya bahwa apa yang mereka lakukan hanya memiliki akibat sosial. Dalam hal ini mereka mengyangkal Allah, dan mereka juga menyangkal bahwa hal-hal kalau tidak benar adalah salah.
Setiap dari kita pada suatu saat atau lainnya telah mendengar pernyataan, "baiklah, lakukan apa yang Anda ingin lakukan," dan hal itu sama dengan kebanyakan penduduk bumi ini.
Saya bersaksi kepada Anda bahwa ada cara yang lebih baik. Itu adalah untuk menjalankan hidup yang benar.
Kata kebenaran adalah kata yang paling menarik dan unik. Itu adalah sebuah kata yang meliputi deretan elemen yang luas yang menyebar dan mencakup semua sifat Allah. Orang seperti itu, yang saleh, adalah seperti Allah.
Benar dan salah memang ada dan saling bertentangan. Tindakan manusia tentunya mempunyai akibat moral. Injil Yesus Kristus mendefinisikan kepada kita perbedaan antara apa yang baik dan apa yang jahat. Apa yang baik berasal dari Allah. Kristus berkata: "Dan segala sesuatu yang menggerakkan manusia untuk berbuat baik berasal dari Aku, karena kebaikan tiada lain, hanya berasal dari Aku. Akulah yang sama yang memimpin manusia kepada segala yang baik" (Eter 4:12).
Kebenaran adalah gabungan dari segala yang baik. Itu memeluk asas-asas kuasa surgawi dan hukum di mana segalah hal tentang Allah ditangani dan dikendalikan serta dikuasai.
Dalam kebenaran ada kesederhanaan yang besar. Dalam setiap pilihan yang menghadapi kita dalam kehidupan ada cara yang benar atau cara yang salah untuk melanjutkan. Jika kita memilih cara yang benar, kita didukung dalam tindakan kita dengan asas-asas kebenaran di mana ada kekuatan dari surga. Bila kita memilih cara yang salah dan bertindak pada pilihan itu, tiada janji atau kekuatan surgawi seperti itu, dan kita sendirian dan ditakdirkan untuk gagal.
Pertanyaan muncul: Bagaimana kita dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah? Seperti Bapa Surgawi kita yang mengirim Putra-Nya Yesus Kristus, untuk menciptakan bumi ini dan melaksanakan dan menguasai semua hal yang berkaitan dengan itu, maka Dia mengirim Roh Kudus untuk bertindak sebagai perantara antara manusia di bumi dan terang dari Roh.
Terang dari Roh diorganisasi sebagai sistem komunikasi untuk menyampaikan konsep kebenaran ke dalam pikiran anak-anak Allah. Sebagai perantara dari kuasa yang besar ini, Roh Kudus akan menerangi pikiran kita dan memberikan kepada kita kejelasan dalam memahami konsep kebenaran bila kita mematuhi hukum-hukum yang menguasai penggunaan Roh. Ini adalah cara di mana Bapa di Surga kita mengajari kita kebenaran dari kesalahan. Jika kita bersedia untuk belajar cara-Nya dan mematuhinya, kita tidak akan pernah perlu untuk menebak, tetapi akan selalu mengetahui dengan yakin perbedaan antara kebenaran dan kesalahan.
Dalam kebenaran ada pemenuhan iman dan pengharapan. Setiap berkat yang Tuhan janjikan kepada anak-anak-Nya adalah ditentukan berdasarkan ketaaatan terhadap hukum dan perintah-Nya. Ketaatan terhadap hukum dan perintah-Nya adalah yang membuat kita benar, dan kebenaran itu membuat kita memenuhi syarat menerima berkat-berkat yang dijanjikan.
Setiap dari kita hidup dengan keadaan masing-masing. Ada tantangan dengan kesehatan, ekonomi, pendidikan, hidup sendirian kesepian, tekanan, perundungan, pelanggaran dan daftar tiada habisnya tentang kondisi yang ada. Solusi pada segala tantangan ini adalah kebenaran.
Di mana ada ketidakpatuhan pada hukum dan perintah Allah, dalam kebaikan hati Dia memberikan bagi kita hukum pertobatan. Bila kita bertindak terhadap hukum yang luar biasa ini, kita akan diampuni dari ketidakpatuhan kita dan menjadi lebih benar, demikian pertobatan membimbing kita pada kebenaran. Banyak, secara nyata kebanyakan tantangan yang kita miliki dalam kehidupan fana dapat dipecahkan melalui pertobatan. Segalanya akan dapat diselesaikan akhirnya melalui kebenaran.
Ada suka cita dan kebahagian yang besar dalam berusaha untuk hidup benar. Dengan istilah yang sederhana, rencana Allah bagi anak-anak-Nya adalah bahwa mereka datang ke bumi ini dan berbuat segala sesuatu yang mereka bisa untuk belajar dan hidup dalam kepatuhan terhadap hukum-hukum. Kemudian, setelah mereka berbuat segala sesuatu, pekerjaan penyelamatan Juruselamat Yesus Kristus, cukup untuk berbuat segala yang tidak mereka bisa lakukan kepada diri mereka sendiri.
Nabi Moroni zaman dulu, sewaktu dia menyelasaikan tugas dan menutup ringkasan catatan tentang hubungan Allah dengan orang-orang-Nya, yang mana adalah Kitab Mormon, mengatakannya dengan cara ini: "Ya, datanglah kepada Kristus, dan jadilah sempurna di dalam Dia, dan tolaklah segala hal yang tidak bertuhan; dan jika kamu akan menyangkal segala hal yang tidak bertuhan dan mengasihi Allah dengan segala daya, pikiran dan kekuatanmu, maka karunia-Nya cukup untukmu, supaya oleh kasih karunia-Nya kamu menjadi sempurna dalam Kristus" (Moroni 10:32). Cara Moroni mengatakan berbuatlah segala sesuatu adalah untuk mengasihi Allah dengan segala daya pikiran dan kekuatanmu.
Berusaha untuk hidup benar adalah mencoba untuk melakukan segala sesuatu yang kita bisa dalam kepatuhan. Dengan ini datang kedamaian dalam dan penghiburan bahwa dalam melakukan segala yang kita bisa, rencana Allah kita akan selesai atas nama kita. Tiada perasaan lainnya dalam jiwa manusia yang dapat membawa sukacita dan kebahagian daripada mengetahui bahwa Anda sedang melakukan segala sesuatu untuk menjadi orang yang benar.
Dalam kebenaran ada keselamatan dan keamanan. Dengan itu kita mengikat Tuhan. Dia mengatakan: "Karena nama orang yang benar akan dituliskan di dalam kita kehidupan dan kepada mereka akan aku anugerahkan sebuah warisan di sebelah kanan-Ku. Saudara-saudaraku, apa yang dapat kamu katakan me-ngenai ini? Aku berkata kepadamu, jika kamu bicara menantangnya, tidak menjadi soal, karena firman Allah harus digenapi" (Alma 5:58).
Dalam dunia ini di mana pelanggaran, korupsi, dan terorisme menimbulkan ketakutan kepada manusia, di mana kita berpaling untuk keselamatan dan keamanan? Tidak ada keselamatan dan keamanan kecuali dalam kebenaran. Tidak ada tempat berlindung. Tidak ada tembok yang akan menahan iblis dan usahanya untuk menantang semua kebenaran. Tidak ada pembelaan terhadap yang tidak pasti dan yang tidak diketahui kecuali kebenaran. Ketakutan dalam hati dan pikiran manusia dapat menjadi damai hanya dengan menggantikan ketakutan itu dengan sebuah pengertian tentang rencana kebahagian Allah dan pengetahuan bahwa mereka melakukan segala sesuatu untuk menjadi benar dan layak untuk sesuai dengan keselamatan kekal.
Sewaktu kekuatan dari kebaikan dan kejahatan menjadi lebih jelas, mereka yang tidak mempunyai akibat moral pada kelakuan mereka akan menemukan kehidupan mereka dalam kekacauan di mana pola hidup mereka akan menjadi berat bagi mereka. Kemudian wahyu akan digenapi di mana dikatakan: "Dan segala sesuatu akan menjadi kacau dan sesungguhnya, manusia akan hilang keberaniannya, karena rasa takut akan menimpa semua orang" (A&P 88:91).
Bila harinya tiba, Orang-orang Suci Allah yang saleh akan menjadi satu-satunya umat yang dikuasai dengan baik dengan siapa dunia akan dapat berpaling. Di sanalah di mana mereka akan menemukan kestabilan dan kekokohan. Mereka akan datang, dengan tidak mengetahui ajaran dari yang benar, tetapi itu akan menjadi seperti yang diramalkan: "Karena lihatlah, Aku berfirman kepadamu bahwa Sion akan berkembang dan kemuliaan Tuhan akan berada di atasnya. Dan dia akan menjadi sebuah panji bagi bangsa-bangsa dan akan datang kepadanya orang-orang dari segala bangsa di kolong langit" (A&P 64:41¬42).
Kebenaran adalah cara yang lebih baik. Akhirnya, itulah cara satu-satunya. Dalam kebenaran ada kekuatan untuk menyediakan suka cita dan kebahagian dan keamanan dan keselamatan yang diinginkan dan dicari dari semua masa generasi
Kelihatannya seperti solusi yang sederhana tetapi kenyataannya adalah bahwa "Setan berkeliaran di negeri dan dia melanjutkan menipu bangsa-bangsa" (A&P 52:14). Ada pertentangan. Benar dan salah memang ada. Tindakan kita sungguh mempunyai akibat moral. Tidak ada cara benar untuk melakukan hal yang salah.
Sebagai seorang yang dipanggil sebagai saksi Yesus Kristus dan untuk memaklumkan injil-Nya, saya memohon bahwa Anda tidak akan menunda melakukan segala sesuatu yang Anda dapat lakukan. Bahwa Anda akan berusaha untuk me- ngetahui hukum-hukum dan perintah-perintah-Nya dan bekerja dengan mendesak untuk mematuhinya. Dengan ini Anda akan memasuki sebuah proses yang akan membuat Anda saleh dan demikian layak untuk berkat-berkat yang dijanjikan.
Yesus Kristus adalah pemimpin pekerjaan ini. Dia adalah Allah kebenaran. Dalam belas kasih-Nya yang penuh kebaikan budi Dia menyediakan bagi kita seorang Nabi yang benar, dengan siapa, yang jika kita ikuti, kita akan melakukan apa yang benar. Untuk kebenaran dari kenyataan ini dan kata-kata yang saya ucapkan saya bersaksi dalam nama Yesus Kristus, amin.
KEJUJURAN
Arti jujur
Jujur jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.
Kenapa harus jujur?
Saya sering mendengar orang tua menasehati anak supaya harus menjadi orang yang jujur. Dalam mendidik dan memotivasi supaya seorang anak menjadi orang yang jujur, kerap kali dikemukakan bahwa menjadi orang jujur itu sangat baik, akan dipercaya orang, akan disayang orang tua, dan bahkan mungkin sering dikatakan bahwa kalau jujur akan disayang/dikasihi oleh Tuhan. Tapi setelah mencoba merenungkan dan menyelami permasalahan kejujuran ini, saya masih merasa tidak mengerti: "Kenapa jadi orang harus jujur?"
Umumnya jawaban yang saya dapat adalah bahwa kejujuran adalah hal yang sangat baik dan positif, dan kadang saya juga mendapat jawaban bahwa "Pokoknya jadi orang harus jujur!"
Jawaban-jawaban tersebut sampai saat ini memang sudah saya anggap "benar", tapi saya masih selalu tergelitik untuk terus mempertanyakan: "Kenapa orang harus jujur? Apakah baik dan positifnya? Lalu bagaimana juga jika dikaitkan dengan proses Siu Tao ( ) kita?"
Bagaimana bersikap jujur
Selain pertanyaan - pertanyaan diatas, selanjutnya dalam benak saya timbul pertanyaan: " Bagaimanakah kejujuran itu dapat dipraktekkan dalam sehari-hari, serta bagaimanakah sikap kita sebagai (dibaca: agar dapat menjadi) seorang Tao Yu ( ) yang jujur?"
• Apakah kita sama sekali tidak boleh berbohong?
• Dan mungkinkah kita selalu jujur dalam kehidupan sehari-hari ini?
• Ataukah masih ada toleransi bagi kita untuk berbohong dalam hal-hal tertentu atau demi kepentingan tertentu?
Nah, sekali lagi saya mengajak para pembaca untuk merenungkannya bersama!
Contoh yang "Lucu" (dibaca: tidak jujur)
Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering melihat (bahkan juga ikut terlibat) dalam berbagai macam bentuk aktivitas interaksi sosial dimasyarakat, yang justru kebanyakannya adalah wujud realisasi dari sikap tidak jujur dalam skala yang sangat bervariasi, seperti:
Sering terjadi, orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata "Oh, tidak apa-apa! Anak pintar, enggak sakit, kok! Jangan nangis, yach!".
Menurut saya, dalam hal ini secara tidak langsung si-anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat "berbohong", menutup-nutupi perasaannya (sakit) hanya karena suatu kepentingan (supaya tidak menangis).
Selain itu saya juga sering melihat dan mengalami kejadian seperti: Saat seseorang bertamu kerumah orang lain, ketika ditanya: " Sudah makan, belum?", walaupun saya yakin tawaran sang tuan rumah "serius" biasanya dengan cepat saya akan menjawab "Oh, sudah!! Kita baru saja makan ", padahal sebenarnya saya belum makan.
Dalam lingkungan usaha / dagang, kejujuran sering disebut-sebut sebagai modal yang penting untuk mendapatkan kepercayaan. Akan tetapi sangat kontroversial dan lucunya kok dalam setiap transaksi dagang itulah justru banyak sekali kebohongan yang terjadi. Sebuah contoh saja: penjual yang mengatakan bahwa dia menjual barang "tanpa untung" atau "bahkan rugi" hampir bisa diyakini pasti bohong.
• Nah, jika demikian, lalu dimanakah letaknya kejujuran itu?
• Atau bagaimanakah kejujuran yang dimaksud tersebut dapat diaplikasikan dalam dunia sehari-hari?
Dalam Siu Tao
• Apakah belajar Tao ( ) mengejar Kesempurnaan harus tidak pernah berbohong sama sekali?
• Lalu bagaimanakah kita dapat menjalani hidup ini yang juga mau tidak mau "harus" bertopeng?
• Apakah mungkin, kita bisa tidak pernah berbohong sama sekali dalam hidup ini?
Pernah saya mencoba meyakinkan diri bahwa saya memang sudah "Jujur", tapi kemudian akhirnya saya kesulitan menjawab pertanyaan: "Apakah saya tidak membohongi diri sendiri?"
Lalu bagaimanakah sebenarnya? Nah, semoga para pembaca budiman bisa memberikan jawabannya (tentunya jawaban yang jujur , lho!).
Langganan:
Postingan (Atom)